← Semua Artikel

3 menit baca

Viral! Ini Pohon 'Sakura' yang Lagi Mekar di Purworejo — Bisa Ditanam Sendiri di Rumah

Tabebuya yang mirip bunga sakura lagi viral difoto warga di Purworejo. Kenali asal-usul, ciri-cirinya, dan cara menanamnya sendiri di rumah.

Viral! Ini Pohon 'Sakura' yang Lagi Mekar di Purworejo — Bisa Ditanam Sendiri di Rumah

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial warga Purworejo ramai dengan satu pemandangan yang sama: pohon berbunga lebat warna-warni yang mirip sakura Jepang. Banyak yang mengunggah foto dan video pohon ini sedang mekar penuh di beberapa titik kota, salah satunya di kawasan Banyuurip. Padahal ini bukan sakura asli — namanya tabebuya, dan momen mekarnya memang selalu jadi buruan foto di berbagai daerah Indonesia.

Bukan Cuma Tren Nasional, Lagi Ramai di Purworejo Sendiri

Tabebuya memang bukan tanaman baru. Kota-kota seperti Surabaya dan Magelang sempat lebih dulu viral karena pohon ini beberapa tahun terakhir, sampai dijuluki media lokal sebagai “Negeri Sakuranya Indonesia”. Yang membuat momen sekarang menarik buat warga Purworejo adalah viralnya justru terjadi di kota sendiri — bukan cuma nonton foto dari kota lain, tapi pohonnya benar-benar mekar dan jadi spot foto dadakan di lingkungan sekitar.

Kenapa Disebut “Sakura-nya Indonesia”?

Tabebuya (nama ilmiahnya masuk genus Handroanthus, dulu dikelompokkan sebagai Tabebuia) sebenarnya berasal dari Brasil, jauh dari Jepang tempat asal sakura. Kemiripannya cuma soal tampilan: saat mekar, bunga tabebuya tumbuh serempak dan lebat menutupi hampir seluruh kanopi pohon, mirip momen sakura mekar di musim semi. Bedanya, tabebuya bisa mekar lebih dari sekali dalam setahun, terutama menjelang dan selama musim kemarau.

Warna bunganya bervariasi tergantung jenisnya — ada yang kuning, putih, sampai pink keunguan. Bentuk bunganya menyerupai terompet kecil, tumbuh bergerombol dalam satu tangkai, dengan diameter masing-masing kuntum sekitar beberapa sentimeter.

Ciri-Ciri Pohon Tabebuya

  • Tinggi — bervariasi cukup lebar tergantung kondisi tumbuh, umumnya sekitar 5-10 meter kalau ditanam sebagai pohon hias/peneduh di pekarangan atau pinggir jalan, meski di habitat aslinya bisa tumbuh jauh lebih tinggi.
  • Daun — majemuk, berwarna hijau tua, dan uniknya sering rontok menjelang musim berbunga — sehingga saat mekar, pohon terlihat penuh bunga tanpa banyak dedaunan yang menghalangi.
  • Akar — sistem perakaran tunggang, relatif tidak merusak struktur bangunan atau paving di sekitarnya meski batangnya keras.
  • Perawatan — tergolong rendah perawatan, tahan kekeringan karena aslinya tumbuh di daerah beriklim kering, dan cukup dipangkas sesekali untuk merapikan bentuk atau membuang cabang yang mati.

Bisa Ditanam Sendiri di Halaman Rumah

Bagian yang sering belum banyak diketahui: tabebuya bukan cuma cocok untuk proyek penghijauan skala kota, tapi juga bisa ditanam di pekarangan rumah biasa sebagai pohon peneduh sekaligus tanaman hias. Cocok untuk halaman yang cukup mendapat sinar matahari penuh, dan tidak butuh perawatan intensif harian seperti tanaman hias pada umumnya — cukup disiram rutin di masa awal tanam sampai akarnya kuat, lalu dipupuk berkala dan dipangkas seperlunya.

Karena bunganya mekar musiman dan momennya sedang jadi perbincangan warga sekitar, ini waktu yang pas kalau memang berencana punya pohon serupa di rumah sendiri — tidak perlu menunggu tren reda dulu baru mulai menanam, justru bibit yang ditanam sekarang bisa ikut mekar di musim berikutnya.

Kalau yang dicari lebih ke arah pagar hidup yang rapi sepanjang tahun (bukan pohon musiman berbunga), opsi lain yang juga populer adalah pucuk merah — perawatannya juga tergolong ringan.


Tertarik punya tabebuya sendiri di halaman rumah? Chat kami untuk cek ukuran bibit yang tersedia dan rekomendasi yang paling pas untuk luas halaman Anda.

Masih ada pertanyaan soal bibitnya?

Tanya via WhatsApp